Jafar Hidayatullah, Pemain Tangan Kiri yang Menghidupkan Ganda Campuran Indonesia
Jafar Hidayatullah menjadi salah satu pemain ganda campuran Indonesia yang paling menarik perhatian. Bersama Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, ia menunjukkan perkembangan yang membuat pasangan tersebut semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
Jafar merupakan pemain kidal, karakter yang dapat memberikan variasi berbeda dalam permainan ganda. Kombinasi pemain tangan kiri dan tangan kanan sering menciptakan sudut serangan yang lebih sulit dibaca. Namun, keunggulan tersebut tetap membutuhkan koordinasi dan pembagian posisi yang baik.
Pada Daihatsu Indonesia Masters 2026, Jafar dan Felisha berhasil melangkah sampai semifinal. Sebelumnya, mereka menyingkirkan unggulan keempat dan menjadi salah satu wakil Indonesia yang bertahan pada fase akhir turnamen.
Dalam pertandingan semifinal, Jafar/Felisha memberikan perlawanan ketat selama tiga gim. Mereka akhirnya kalah dengan skor 22-20, 19-21, dan 17-21. Walaupun gagal mencapai final, pertandingan tersebut menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan berkualitas dalam situasi penuh tekanan.
Perhatian terhadap Jafar kembali meningkat pada Polytron Indonesia Open 2026. Pada babak pertama, Jafar/Felisha berhasil mengalahkan pasangan Korea Selatan, Kim Jae Hyon/Jang Ha Jeong, dengan skor 21-11 dan 21-14. Kemenangan tersebut terasa penting karena sekaligus menjadi pembalasan atas kekalahan sebelumnya.
Pasangan Indonesia kemudian terhenti pada babak kedua setelah kalah dari Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie asal Malaysia. Mereka sempat mengejar ketertinggalan dari 13-19 menjadi 19-19 pada gim kedua, tetapi akhirnya kalah 15-21 dan 19-21.
Jafar dikenal mempunyai kemampuan menekan lawan melalui permainan depan dan serangan cepat. Sebagai pemain putra dalam ganda campuran, ia harus mampu menutup area belakang, menghasilkan serangan, sekaligus bergerak maju ketika pola reli berubah.
Kemitraannya dengan Felisha berkembang karena keduanya memiliki energi muda dan keberanian bermain agresif. Mereka tidak mudah menyerah ketika tertinggal dan beberapa kali mampu mengubah jalannya pertandingan.
Meski demikian, evaluasi setelah Indonesia Open menunjukkan bahwa kesalahan sendiri masih menjadi tantangan. Pada level dunia, pasangan lawan akan menghukum setiap servis tanggung, pengembalian yang terlalu tinggi, atau keputusan terburu-buru.
Jafar perlu terus meningkatkan konsistensi pada poin-poin akhir. Banyak pertandingan besar ditentukan ketika skor mendekati 20. Dalam situasi tersebut, ketenangan, pilihan pukulan, dan komunikasi menjadi faktor utama.
Ganda campuran Indonesia membutuhkan pasangan yang mampu bersaing secara konsisten setelah era sejumlah pemain senior berakhir. Jafar/Felisha menjadi salah satu pasangan yang diharapkan mengisi kebutuhan tersebut. Mereka sudah memiliki pengalaman tampil pada turnamen besar dan menghadapi pasangan papan atas.
Popularitas Jafar juga terbantu oleh karakter permainan yang ekspresif. Gerakannya cepat, serangannya berani, dan pertandingan bersama Felisha sering berlangsung menarik. Hal itu membuat penonton mudah terlibat secara emosional.
Jafar Hidayatullah kini berada pada tahap penting untuk mengubah potensi menjadi prestasi rutin. Semifinal Indonesia Masters dan kemenangan di Indonesia Open merupakan sinyal positif. Namun, ia harus meningkatkan kestabilan agar mampu mencapai final dan memenangi gelar besar.
Dengan kemampuan tangan kiri, kecepatan, dan kerja sama yang terus berkembang, Jafar mempunyai peluang menjadi figur utama kebangkitan ganda campuran Indonesia.